Minggu, 22 Juli 2012

Pembayaran Kaffarah

Siapa yang Berkewajiban untuk Membayar Kaffarah?
Kaffarah puasa adalah denda yang dikenakan atas seseorang karena tiga perkara:

  1. Berhubungan suami istri (jima’).
  2. Melakukan hubungan tersebut pada siang hari Ramadhan. Adapun, jika melakukannya pada malam hari Ramadhan atau di luar Ramadhan, seperti saat membayar tunggakan puasa Ramadhannya, ia tidaklah dikenakan kaffarah.
  3. Dalam keadaan berpuasa. Adapun, jika seseorang berhubungan saat Rama­dhan dan dalam keadaan tidak berpuasa, seperti seseorang yang kembali dari perjalanan dalam keadaan tidak berpuasa, lalu mendapati istrinya usai mandi suci terhadap haidh kemudian keduanya berhubungan, keadaan seperti ini tidaklah dikenakan kaffarah.

Apakah Istri juga Membayar Kaffarah ?
Menurut pendapat terkuat dari kalangan ulama, kaffarah juga dikenakan atas sang istri jika ia mengajak, atau taat pada suaminya dengan kemauannya sendiri, untuk berhubu­ngan intim.

Ketentuan Pembayaran Kaffarah
Pembayaran kaffarah seseorang adalah dengan memilih salah satu dari tiga jenis kaffarah berikut ini secara berurut sesuai kemampuannya:
  1. Membebaskan budak. Dalam hal ini, tidak ada perbedaaan antara budak kafir dan budak muslim menurut pendapat yang lebih kuat.
  2. Berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa terputus. Jumhur ulama mensyaratkan agar dua bulan ini tidak terputus dengan Ramadhan dan hari-hari yang terlarang untuk berpuasa, yaitu hari Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari tasyriq. Apabila berpuasa selama kurang dari dua bulan berturut-turut, ia belum dianggap membayar kaffarah.
  3. Memberi makan enam puluh orang miskin dengan sesuatu yang dianggap makanan menurut kebiasaan ke­banyakan manusia. Kadar makanan untuk setiap orang miskin sebanyak satu mud, yaitu sebanyak dua telapak tangan orang biasa.

Pembayaran Kaffarah Hanya dengan Tiga Jenis
Pembayaran kaffarah tidak sah kecuali dengan tiga jenis di atas.

Apakah Kaffarah Gugur bila Seseorang Tidak Mampu?
Apabila seseorang tidak mampu membayar dengan salah satu dari tiga bentuk di atas, kewajiban pembayaran kaffarah tersebut tetap berada di atas pundaknya sampai ia mampu membayar kaffarah tersebut.
Seluruh keterangan di atas dipetik dari makna yang tersurat maupun tersirat pada kandungan hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhâry dan Muslim,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَكْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ وَمَا أَهْلَكَكَ؟ قَالَ : وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِيْ فِيْ رَمَضَانَ (وَأَنَا صَائِمٌ) قَالَ هَلْ تَجِدُ مَا تُعْتِقُ رَقَبَةً؟ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سَتِّيْنَ مِسْكِيْنًا؟ قَالَ لَا قَالَ ثُمَّ جَلَسَ فَأُتِيَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهَذَا قَالَ أَفْقَرُ مِنَّا ؟ فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ.
“Seorang lelaki datang kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Saya telah binasa, wahai Rasulullah.’ Beliau bertanya, ‘Hal apa yang membuatmu binasa?’ Ia berkata, ‘Saya telah menggauli (berhubungan intim dengan) istriku saat Ramadhan, [padahal sedang berpuasa] [1].’ Maka, beliau bertanya, ‘Apakah engkau mampu membebaskan budak?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah kamu mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Ia juga menjawab, ‘Tidak.’ Beliau kembali bertanya, ‘Apakah kamu mampu memberi makan kepada enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab lagi, ‘Tidak,’ lalu ia pun duduk. Kemudian, satu ‘araq ‘tempat yang sekurang-kurangnya dapat memuat enam puluh mud,-pent.’ berisi kurma dibawakan kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata kepadanya, ‘Bershadaqahlah engkau dengan ini.’ Ia berkata, ‘(Apakah kurma ini) diberikan kepada orang yang lebih fakir daripada kami? Karena di antara dua bukit Madinah, tidak ada keluarga yang lebih fakir daripada kami.’ Maka, tertawalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam hingga gigi taring beliau tampak, kemudian berkata, ‘Pergi dan berilah makan kepada keluargamu dengan (kurma) tersebut.’.”

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates